Sunat pada Bayi Baru Lahir, Amankah?

Sunat pada Bayi Baru Lahir, Amankah?

Halo Omifams !

Kali ini Omiland akan membahas Sunat pada Bayi Baru Lahir, Amankah?

Sebenarnya ya Mums, tak ada patokan khusus yang mengatur usia berapa anak harus disunat. dr.Arry Rodjani Sp.U dari RS Asri Duren Tiga mengatakan, anak-anak boleh disunat jika memiliki penis normal.

“Tidak ada usia idealnya. Umur berapapun bisa disunat, tergantung anak dan keluarganya. Saat anak dianggap sudah besar tapi masih takut disunat, bisa dibujuk. Atau bisa dibius umum supaya tidak nyeri saat dilakukan operasi. Kalau makin besar apakah lebih sulit atau mudah sebenarnya tidak ada masalah. Tapi kalau bayi kan bisa lebih mudah karena tidak banyak gerak,” ungkap Arry.

Prosedur Sunat Bayi Baru Lahir

 

 

Untuk melakukan sunat, dokter menempatkan Si Kecil di atas meja khusus dan membersihkan penis dan kulupnya. Penjepit khusus melekat pada penis dan kulup dihilangkan untuk mengekspos kepala penis.

Terakhir, salep dan kasa atau cincin plastik ditempatkan di atas luka untuk melindunginya dari gesekan popok.

Prosedur sunat dilakukan dengan cepat. Si Kecil mungkin menangis selama itu. “Dan untuk sementara waktu sesudahnya. Anestesi lokal dapat sangat mengurangi ketidaknyamanan Si Kecil. Jika Mums memutuskan untuk menyunat, bicarakan dengan dokter anak tentang pilihan anestesi,” tambah Elliott.

Ada sejumlah penelitian ekstensif yang mempelajari sumber-sumber terpercaya yang mendukung manfaat sunat.

 

Manfaat Sunat untuk Kesehatan Bayi Laki-Laki

 

Walaupun sunat bayi laki-laki memiliki risiko, namun manfaatnya secara medis jauh lebih banyak. Berikut ini adalah sejumlah manfaat bagi kesehatan yang bisa didapat Si Kecil jika disunat:

1. Mencegah masalah penis

Di beberapa kasus, kulup pada penis yang tidak disunat dapat menempel kuat di kepala penis dan menyebabkan fimosis. Hal ini kemudian dapat menyebabkan peradangan pada kulup atau kepala penis.

2. Mengurangi risiko infeksi pada penis

Menurut penelitian, bayi yang tidak disunat berisiko lebih tinggi menderita infeksi saluran kemih dibanding bayi yang disunat. Salah satu alasannya adalah karena penis yang disunat lebih mudah dijaga kebersihannya.

3. Mengurangi risiko kanker penis

Kanker penis adalah jenis kanker yang jarang terjadi, baik pada orang yang disunat maupun tidak. Namun, bukan berarti semua orang sepenuhnya terbebas dari kemungkinan kanker penis.

Salah satu upaya yang bisa Bunda lakukan untuk menjauhkan Si Kecil dari risiko kanker penis adalah dengan menyunatnya. Selain dipercaya efektif mencegah anak dari bahaya kanker penis, sunat juga diduga dapat menurunkan risiko kanker prostat ketika ia dewasa.

4. Menurunkan risiko terkena penyakit seksual menular

Selain untuk menyehatkan organ reproduksinya, sunat juga memberikan manfaat jangka panjang bagi buah hati Anda kelak setelah ia dewasa. Sunat dikatakan dapat mengurangi risiko terkena penyakit seksual menular.

Namun, hal ini tetap perlu disertai dengan perilaku seks yang aman, yaitu dengan  menggunakan kondom setiap kali berhubungan intim dan tidak berganti pasangan seksual.

Tidak ada yang salah atau benar dengan keputusan menyunat bayi laki-laki, kecuali jika bayi lahir secara prematur, memiliki gangguan pembekuan darah, atau menderita kelainan genetik. Dalam hal ini, sunat perlu dipertimbangkan ulang manfaat dan risikonya.

Jika Mums masih ragu untuk memutuskan apakah Si Kecil perlu disunat, cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter.

Manfaat Sunat untuk Kesehatan Bayi Perempuan

 

 

Praktik sunat perempuan adalah sebuah proses menghilangkan sebagian atau seluruh organ genitalia eksterna atau melukai organ kelamin wanita.

WHO mengelompokkan 4 prosedur praktik sunat perempuan:

  • Klitoridektomi, penghilangan sebagian atau seluruh klitoris (bagian kecil, sensitif dan ereksi dari alat kelamin perempuan), dan dalam kasus yang sangat jarang, hanya lipatan kulit di sekitar klitoris.
  • Eksisi, penghilangan sebagian atau seluruh klitoris dan lipatan dalam vulva dengan atau tanpa eksisi lipatan luar.
  • Infibulasi, penyempitan lubang vagina, terkadang melalui jahitan, dengan atau tanpa pengangkatan klitoris (klitoridektomi).
  • Mencakup semua prosedur berbahaya lain, misalnya: menusuk, menggores dan membakar area genitalia eksterna.

Tidak ada manfaat kesehatan yang didapat, yang ada malah efek jangka pendek seperti:

  • Sakit parah,
  • Pendarahan,
  • Pembengkakan jaringan kelamin,
  • Demam,
  • Infeksi,
  • Gangguan saluran kencing,
  • Masalah penyembuhan luka,
  • Shock, dan
  • Kematian.

Bahkan, banyak sekali efek jangka panjang yang jauh lebih menakutkan.

 

Ketahui Berbagai Risiko Sunat pada Bayi Laki-Laki

 

Sunat bayi laki-laki bisa dilakukan dalam waktu beberapa hari setelah bayi baru lahir. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan karena sunat bayi merupakan prosedur yang cukup kompleks. Sebelum Mums mengambil keputusan, mari simak penjelasan seputar manfaat dan risiko sunat bayi di artikel berikut.

Sunat merupakan operasi pembuangan kulup atau kulit yang menutupi bagian ujung atau kepala penis. Dari sisi medis, sunat dianggap memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan.

Meski demikian, prosedur sunat juga memiliki beberapa risiko, terutama jika dilakukan pada bayi.

Risiko komplikasi sunat tergolong rendah dan hanya terjadi pada 1–2% dari keseluruhan bayi yang disunat. Sebagian besar komplikasi yang mungkin muncul adalah infeksi dan perdarahan.

Selain infeksi dan perdarahan, sunat juga dapat menimbulkan komplikasi berupa:

  • Cedera pada penis
  • Peradangan
  • Pada bukaan penis (Meatitis)
  • Gangguan pada saluran kemih, seperti penyempitan pada saluran kencing di penis
  • Nyeri saat ereksi ketika sudah dewasa karena terlalu banyak kulit yang dipotong
  • Masalah pada kulup, seperti kulup gagal sembuh dengan baik atau kulup menempel di ujung penis dan butuh bedah perbaikan

 

Baca Juga: Ini 30 Nama Jawa Bayi Laki-Laki yang Tampan dengan Arti yang Indah!

 

 

No Comments

Post A Comment